Hak Tetangga Dalam Islam

Posting Di 33 Dilihat

‘Tetangga yang dekat’ dalam ayat ini telah ditafsirkan oleh berbagai ahli tafsir menyiratkan berbagai hal. Sebagian menganggap itu menyiratkan kerabat.

Hak Tetangga Dalam Islam

HAK TETANGGA

وَ أَمَّا حَقُّ الْجَارِ فَحِفْظُهُ غَائِبًا وَ كَرَامَتُهُ شَاهِدًا وَ نُصْرَتُهُ وَ مَعُوْنَتُهُ فِيْ الْحَالَيْنِ جَمِيْعًا. لاَ تَتَبَّعْ لَهُ عَوْرَةً وَ لاَ تَبْحَثْ لَهُ عَنْ سَوْءَةٍ لِتَعْرِفَهَا فَإِنْ عَرَفْتَهَا مِنْهُ عَنْ غَيْرِ إِرَادَةٍ مِنْكَ وَ لاَ تَكَلُّفٍ كُنْتَ لِمَا عَلِمْتَ حِصْنًا حَصِيْنًا وَ سِتْرًا سَتِيْرًا لَوْ بَحَثَتِ اْلأَسِنَّةُ عَنْهُ ضَمِيْرًا لَمْ تَتَّصِلْ إِلَيْهِ لِإِنْطِوَائِهِ عَلَيْهِ لاَ تَسْتَمِعْ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُ لاَ تُسْلِمْهُ عِنْدَ شَدِيْدَةٍ وَ لاَ تَحْسُدْهُ عِنْدَ نِعْمَةٍ تُقِيْلُ عَثْرَتَهُ وَ تَغْفِرُ زَلَّتَهُ وَ لاَ تَدَّخِرْ حِلْمَكَ عَنْهُ إِذَا جَهِلَ عَلَيْكَ وَ لاَ تَخْرُجْ أَنْ تَكُوْنَ سِلْمًا لَهُ تَرُدُّ عَنْهُ لِسَانَ الشَّتِيْمَةِ وَ تُبْطِلُ فِيْهِ كَيْدَ حَامِلِ النَّصِيْحَةِ وَ تُعَاشِرُهُ مُعَاشَرَةً كَرِيْمَةً وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.


Adapun hak tetangga adalah hendaknya engkau menjaga (nama baik)nya di saat dia tidak ada, menghormatinya saat dia ada dan membantu serta menolongnya dalam semua keadaan. Jangan memata-matai kekurangannya, jangan mencari-cari kejelekannya. Jika secara tidak sengaja engkau mengetahui kekurangannya maka engkau harus menjadi benteng atau tabir yang menutupinya. Jangan engkau dengarkan kata-kata yang menyudutkannya. Jangan biarkan dia sendirian mengatasi kesulitan. Janganlah iri saat melihat dia mendapat kesenangan.

Maafkanlah jika dia melakukan kesalahan. Perlakukanlah dia dengan lemah-lembut meski dia melakukan tindakan bodoh terhadap dirimu. Jangan sampai engkau tidak berdamai dengannya. Jangan pernah engkau mencemoohnya dengan kata-kata. Dan perlakukanlah dia dengan segala penghormatan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan bersandar kepada Allah.

Frase Arab jar yang berarti tetangga digunakan dengan beberapa implikasi dalam al-Quran. Di beberapa bagian, kata ini dipakai untuk merujuk kepada tetangga dekat atau jauh.

Dalam al-Quran, kata ini juga dipakai untuk merujuk kepada orang-orang yang mencari suaka seperti dalam ayat berikut,

وَ إِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ.

Dan, jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia (QS. al-Taubah [9]:06)

Kata di atas yang dipakai untuk tetangga memiliki makna yang lebih dalam menyangkut keamanan. Itu berarti bahwa tetangga saling diberi keamanan oleh satu sama lain. Hak seorang tetangga besar secara intelektual dan agama. Kata jar ini dipakai di semua tempat di mana ada hak besar sebagaimana dalam ayat berikut,

لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَ إِنِّيْ جَارٌ لَّكُمْ.

...tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu... (QS. al-Anfal [8]:48)

Di sini dalam kalimat saya ini adalah pelindungmu dalam bahasa Arab kata jar dipakai. Al-Quran merujuk pada tetangga dekat dan jauh. Kita akan membahas masalah ini berikutnya.

Hak Tetangga dalam Pandangan al-Quran.

Perhatikan ayat berikut dari al-Quran,

وَ اعْبُدُوْا اللهَ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ بِذِيْ الْقُرْبَى وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِيْنِ وَالْجَارِ ذِيْ الْقُرْبَى وَ الْجَارِ الْجُنُبِ وَ الصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَ ابْنِ السَّبِيْلِ وَ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ.

Sembahlah Allah dan janganlah engkau mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu (QS. al-Nisa [4]:36)
Ayat ini merujuk pada beberapa hak dalam Islam, termasuk hak-hak tetangga.

Tetangga yang dekat dalam ayat ini telah ditafsirkan oleh berbagai ahli tafsir menyiratkan berbagai hal. Sebagian menganggap itu menyiratkan kerabat. Namun, karena ayat-ayat yang mendahului ayat ini dalam al-Quran merujuk pada hak-hak kerabat, maka penafsiran ini tampaknya menjadi makna yang mustahil. Sebaliknya, implikasi yang lain tampaknya lebih tepat. Ini mungkin berarti tetangga yang dekat dengan kita dalam agama. Tetangga yang jauh menyiratkan jarak fisik.

Menurut hadis, orang-orang yang tinggal sampai empat puluh rumah jauhnya pada tiap-tiap arah, dianggap tetangga kita. Hal ini juga dapat merujuk kepada tetangga nonmuslim yang tidak memerangi umat Islam. Setelah kita telah mempelajari ayat-ayat al-Quran tentang tetangga, sekarang kita akan meninjau secara singkat hadis tentang masalah ini.

Hadis tentang Hak Tetangga.

Ada banyak hadis tentang hak-hak tetangga, kehormatan mereka dan peran mereka dalam keamanan kita. Rasulullah saw bersabda,

مَنْ أَغْلَقَ بَابَهُ خَوْفًا مِنْ جَارِهِ عَلَى أَهْلِهِ وَ مَالِهِ فَلَيْسَ جَارُهُ مُؤْمِنًا.

Orang yang tetangganya harus mengunci pintu karena takut dirampok olehnya, maka dia bukanlah seorang mukmin.

Rasulullah saw ditanya, Wahai Rasulullah! Apa saja hak-hak tetangga yang wajib atas tetangga lainnya? Beliau berkata,

مِنْ أَدْنَى حُقُوْقِهِ عَلَيْهِ إِنِ اسْتَقْرَضَهُ أَقْرَضَهُ وَ إِنِ اسْتَعَانَهُ أَعَانَهُ وَ إِنِ اسْتَعَارَ مِنْهُ إِعَارَهُ وَ إِنِ احْتَاجَ إِلَى رِفْدِهِ رَفَدَهُ وَ إِنْ دَعَا أَجَابَهُ وَ إِنْ مَرِضَ عَادَهُ وَ إِنْ مَاتَ شَيَّعَ جَنَازَتَهُ وَ إِنْ أَصَابَ خَيْرًا فَرِحَ بِهِ وَ لَمْ يَحْسِدْهُ وَ إِنْ أَصَابَ مُصِيْبَةً حَزِنَ لِحِزْنِهِ وَ لاَ يَسْتَطِيْلُ عَلَيْهِ بِبِنَاءٍ سَكَنَهُ فَيُؤْذِيْهِ بِإِشْرافِهِ عَلَيْهِ وَ سَدِّ مَنَافِذِ الرِّيْحِ عَنْهُ وَ إِنْ أُهْدِيَ إِلَى مَنْزِلِهِ طُرْفَةٌ أَهْدَى لَهُ قِسْمًا مِنْهَا إِذَا عَلِمَ أَنَّهُ لَيْسَ عِنْدَهُ مِثْلُهَا أَوْ فَلْيَسْتِرْهَا عَنْهُ وَ عَنْ عِيَالِهِ إِنْ شَحَّتْ نَفْسُهُ بِهَا. إِسْمَعُوْا مَا أَقُولُ لَكُمْ: لَمْ يُؤدِّ حَقَّ الْجَارِ إِلاَّ قَلِيْلٌ مِمَّنْ رَحِمَهُ اللهُ، وَ لَقَدْ أَوْصَانِيَ اللهُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُورِّثُهُ.

Setidaknya hak seorang tetangga adalah bahwa, jika dia meminta kepadamu pinjaman, engkau harus memberikan itu kepadanya. Jika dia memintamu bantuan, engkau harus membantu dia. Jika dia ingin meminjam sesuatu darimu, engkau harus meminjamkan kepadanya. Jika dia membutuhkan engkau untuk menyumbangkan sesuatu kepadanya, engkau harus melakukannya. Jika dia mengundangmu, engkau harus menerima undangannya. Jika dia sakit, engkau harus pergi dan mengunjunginya.

Jika dia meninggal, engkau harus menghadiri upacara pemakamannya. Jika dia menerima beberapa karunia, engkau harus bahagia dan tidak iri kepadanya. Jika tragedi menimpanya, engkau harus merasakan kesedihannya. Dia tidak boleh membangun sebuah gedung tinggi yang menghalangi pandangan dari tempat tinggalnya karena menghadap rumahnya dan menghalangi berlalunya angin.

Jika engkau membawa pulang sesuatu seperti buah, engkau harus memberinya sebagian sebagai hadiah atau menutupi buah tersebut dan membawanya pulang sedemikian rupa sehingga anak-anaknya tidak melihatnya. (Rasulullah saw kemudian menambahkan,) Dengarkan apa yang aku katakan kepadamu. Hanya sebagian kecil orang yang dikaruniai rahmat Allah menghormati hak-hak tetangga. Allah menekankan hak-hak tetangga sedemikian rupa hingga aku pikir para tetangga mewarisi dari seseorang.
Ada tiga poin penting ditekankan oleh Nabi saw dalam hadis ini.

Poin pertama adalah bahwa rumah setiap orang adalah tempatnya perdamaian dan keamanannya, baik bagi kekayaan maupun bagi kehormatannya. Seandainya seseorang kehilangan keamanannya di rumah, dia telah kehilangan kubu pertahanannya yang paling aman. Perdamaian dan keamanan adalah hak pasti setiap orang dan tidak boleh dilanggar oleh siapa pun. Jika seseorang hidup sedemikian rupa hingga mengancam keamanan tetangganya, maka dia bukanlah seorang muslim mukmin yang benar.

Poin kedua yang ditekankan di sini adalah tidak membangun gedung-gedung tinggi yang menghadap rumah orang lain. Kita semua tahu bahwa pada zaman Nabi saw tidak ada gedung-gedung tinggi di Arab. Namun, ajaran Nabi saw bersifat universal dan sepanjang masa. Dengan demikian, Nabi saw memerintahkan kita untuk tidak membangun bangunan tersebut. Inilah salah satu tanda kelengkapan ajaran Islam dan bukti Islam merupakan agama terakhir.Perumahan masih merupakan salah satu masalah sosial utama manusia. Masalah menemukan tempat yang aman untuk hidup bukan hanya salah satu dari masalah kita, tetapi juga salah satu masalah dari sebagian besar negara di dunia. Orang Barat telah memilih tinggal di apartemen dengan segala masalah dan keterbatasannya. Orang-orang kita juga mengikuti praktik ini.

Poin ketiga yang ditekankan adalah bahwa seseorang tidak boleh menunjukkan apa yang dia bawa ke dalam rumahnya kepada tetangga-tetangganya atau memberikan sedikit dari apa yang dia bawa pulang kepada tetangganya jika mereka miskin.

Dilarang Menyakiti Tetangga

Imam Jafar Shadiq as mengatakan,

مَلْعُوْنٌ مَنْ آذَى جَارَهُ.

Orang yang menyulitkan tetangganya dikutuk.
Di sisi lain, menyenangkan tetangga seseorang menjadi penyebab pengampunan. Dalam Lubb al-Lubab, Quthb Rawandi menukilkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

مَنْ مَاتَ وَ لَهُ جِيْرَانٌ ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ رَاضُوْنَ عَنْهُ غُفِرَ لَهُ.

Barang siapa yang meninggal dengan tiga tetangga yang senang dengannya, dia akan diampuni (oleh Allah).
Rasulullah saw bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia tidak menyakiti (mengganggu) tetangganya.
Nabi saw juga mengatakan,

حُرْمَةُ الْجَارِ عَلَى الْجَارِ كَحُرْمَةِ أُمِّهِ.

Rasa hormat yang diberikan kepada tetangga seseorang seperti rasa hormat yang diberikan kepada ibu seseorang.

Mengeluhkan Tetangga

Imam Jafar Shadiq as meriwayatkan bahwa seseorang mengeluh kepada Rasulullah saw tentang tetangganya. Nabi saw memalingkan wajahnya darinya. Dia kembali lagi. Kemudian Nabi saw berkata kepada Ali as, Salman dan Miqdad,

إِذْهَبُوْا وَ نَادُوْا أَنْ لَعْنَةُ اللهِ وَ الْمَلاَئِكَةِ عَلَى مَنْ آذَى جَارَهُ.

Pergi dan umumkanlah secara terbuka bahwa laknat Allah dan para malaikat akan menimpa siapa saja yang menyakiti tetangganya.

Memperlakukan Tetangga dengan Kebaikan
Nabi saw bersabda,

الْبِرُّ وَ حُسْنُ الْجِوَارِ زِيَادَةٌ فِيْ الرِّزْقِ وَ عِمَارَةٌ فِيْ الدِّيَارِ.

Memperlakukan tetangga dengan kebaikan dan menjadi tetangga yang baik akan mengakibatkan bertambahnya rezeki dan kemakmurannya.
Imam Ridha as dinukil mengatakan berikut ini dalam Fiqh al-Ridha,

وَ أَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَكَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَسْأَلُكَ عَنِ الْجَارِ، وَ قَدْ رُوِيَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ): إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى أَوْصَانِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ يَرِثُنِيْ.

Jadilah tetangga yang baik bagi tetanggamu karena Allah akan bertanya kepada kepadamu tetanggamu. Rasulullah saw dinukil telah berkata bahwa Allah Yang Mahakuasa menasihati aku sedemikian rupa tentang tetangga hingga aku pikir mereka akan mewarisi dariku.

Perhatian Terhadap Tetangga Anda
Dinukil dari Rasulullah saw yang bersabda,

مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَ جَارُهُ جَائِعٌ.

Tidaklah beriman kepadaku barang siapa menghabiskan malamnya dengan perut kenyang, sementara tetangganya lapar.
Beliau juga bersabda,

مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَ جَارُهُ طَاوٍ، مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ كَاسِيًا وَ جَارُهُ عَارٍ.

Tidaklah beriman kepadaku barang siapa yang menghabiskan malamnya dengan perut kenyang, sementara tetangganya lapar. Tidaklah beriman kepadaku barang siapa yang menghabiskan malamnya dengan berpakaian, sementara tetangganya tidak memiliki pakaian.

Dalam sebuah surat kepada gubernurnya, Usman bin Hunaif, Imam Ali as menulis,

أَأَبِيْتُ مِبْطَانًا وَ حَوْلِيْ بُطُوْنٌ غَرَثَى وَ أَكْبَادٌ حَرَّى؟

Haruskah aku melewati malamku dengan perut kenyang, sementara di sekitarku masih ada orang-orang yang perutnya lapar dan haus?

Tetangga Buruk
Dinukil dari Rasulullah saw yang bersabda,

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ جَارِ سُوْءٍ فِيْ دَارِ إِقَامَةٍ تَرَاكَ عَيْنَاهُ وَ يَرْعَاكَ قَلْبُهُ، إِنْ رَآكَ بِخَيْرٍ سَاءَهُ وَ إِنْ رآكَ بِشَرٍّ سَرَّهُ.

Aku berlindung kepada Allah dari tetangga yang jahat di mana engkau tinggal. Dia mengawasimu dengan kedua mata dan hatinya. Jika dia melihatmu dalam keadaan baik, itu menyedihkannya dan, jika dia melihatmu dalam keadaan yang buruk, itu membuatnya senang.

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, Orang-orang yang tinggal di empat puluh rumah di kedua sisi rumahmu adalah tetanggamu. Engkau harus menghormati hak-hak mereka, hidup bersama mereka, dan bergaul dengan mereka dalam damai. Mintalah pertolongan Allah untuk melakukannya.

Dinukil dari Kitab Risalah Huquq Imam Ali Zainal Abidin as

Tinggal Di Indonesia

Saya adalah saya