Kendala Pengembangan Properti di KEK Galang Batang

Posting Di 76 Dilihat

Pemerintah akan meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, lantas bagaimana dampaknya terhadap bisnis properti?

Kendala Pengembangan Properti di KEK Galang Batang

Di bagian barat Indonesia, provinsi Kepulauan Riau sejak dahulu diketahui menjadi lahan primadona untuk berinvestasi. Mulai dari perdagangan, industri, hingga sektor-sektor lain dianggap selalu berjalan mulus pengoperasiannya.

Misalnya saja investasi baru yang sebentar lagi diresmikan pengoperasiannya oleh pemerintah pada November awal, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang. Kawasan ekonomi khusus seluas 2.336 hektar tersebut khusus difokuskan sebagai sentra aktivitas dan pengembangan industri pengolahan mineral tambang di Bintan. Diresmikan lewat Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2017, KEK Galang Batang terbagi dalam 4 area yakni: zona pengolahan bauksit, zona energi dari PLTU, zona logistik, dan zona pengolahan ekspor.

Melalui keberadaan KEK Galang Batang, pemerintah berharap untuk dapat menghasilkan sebuah pertumbuhan ekonomi baru di sekitaran Pulau Bintan. Namun, disamping mulusnya pengembangan KEK, terdapat sektor prima yang vital namun terkendala dalam pengembangannya. Sektor tersebut adalah sektor properti.

Adapun permasalahan yang terjadi dalam pengembangan properti di kawasan tersebut pada dasarnya sama seperti mayoritas permasalahan di provinsi Kep Riau, yakni Hak Pengelolaan Lahan. Beberapa regulasi terkait pengelolaan lahan dianggap masih belum memudahkan pengembangan beragam properti disana. Padahal investasi properti dinilai sangat prima mengingat akan terdapat penyerapan ribuan pekerja pada kawasan tersebut.

Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (REI) Kepulauan Riau, Triyono mengemukakan meskipun potensi pengembangan properti terlihat, namun sebenarnya terdapat kendala mendasar dari regulasi pengelolaan lahan.

Menanggapi permasalahan yang terjadi, Triyono mengemukakan asal terdapat pengalokasian pengelolaan lahan oleh otoritas pengelola wilayah untuk kepentingan hunian, developer siap untuk membangun tempat bermukim khususnya bagi para pekerja di KEK Galang Batang.

Bagi REI Kepulauan Riau, pengembangan hunian di kawasan yang dekat dengan industri merupakan sebuah hal yang penting. Disamping berdekatan lokasi bekerja, kepemilikan hunian milik pribadi dapat menjadi bekal para pekerja untuk memiliki properti disaat berhenti bekerja atau pindah pekerjaan dari area perindustrian tersebut.

Permasalahan yang berdampak kepada para pekerja di kawasan-kawasan industri Kepulauan Riau pada dasarnya hampir sama, yaitu ketidakpunyaan properti pribadi para pekerja yang biasanya tinggal di fasilitas yang disediakan oleh perusahaan (dormitory). Padahal dari segi pendapatan, para pekerja tersebut memiliki kemampuan untuk memiliki hunian pribadi.

Triyono menambahkan, pengembangan hunian untuk para pekerja pada kawasan industri tentu juga akan menjadi opsi hunian para pekerja dibanding fasilitas dormitory yang disediakan. Hal ini juga dapat meningkatkan pertumbuhan properti di kawasan tersebut. Selanjutnya, transaksi jual beli rumah atau properti pribadi lain tentu akan menekan angka backlog perumahan daerah. Ia menekankan jangan sampai para pekerja khususnya para veterannya tidak memiliki hunian pribadi disaat masa tuanya berlangsung.

Sebagai langkah pencegahan permasalahan tersebut, para developer yang tergabung dalam REI mengharapkan adanya sinergitas dengan para pemangku kepentingan, khususnya otoritas wilayah di Kepulauan Riau dalam hal regulasi pengelolaan lahan. Regulasi-regulasi seperti penyederhanaan izin hingga harga Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) dapat sangat mendukung pengentasan permasalahan hunian di kawasan tersebut.

Ia tidak menampik, jika regulasi kemudahan tersebut terlaksana, para pengembang akan menghadirkan beragam properti hunian untuk para pencari properti, sekalipun itu merupakan hunian murah atau rumah subsidi yang saat ini memang dibutuhkan untuk menekan angka permintaan rumah yang didamba masyarakat di sekitaran wilayah KEK.

Menandai: properti,

Tinggal Di Indonesia